Inilah 7 Karakteristik Wisatawan Millenial

KETERGANTUNGAN TEKNOLOGI

Millennials adalah manusia yang ketergantungan teknologi. Bagi mereka konektivitas adalah segalanya. Dalam berwisata, mereka butuh teknologi dalam segala aspek mulai dari fase saat mereka mendapatkan inspirasi (e.g. browsing instagram atau sosmed lainnya), melakukan riset (e..g cek harga), share dan sampai ketika mereka berwisata di destinasi.

PROMOTOR DESTINASI

kaum millennials ibarat freelance marketer untuk sebuah destinasi, yang tidak dibayar, dan secara sukarela membagikan pengalaman mereka berwisata ke sebuah destinasi lewat jejaring sosial. Tentunya selama pengalaman tersebut positif, bermakna dan instagramable

KONTROLER AKUT

Millennial di Asia butuh control dan autonomi terhadap pengalaman mereka ketika berwisata. Hasrat utamanya adalah untuk dapat melakukan apa yang mereka inginkan, kapanpun mereka mau. Tidak ingin didikte atau dipaksa, kaum millennials ingin merasa ter-empower ketika berwisata. Tak heran jika mereka cenderung menghindari paket tur.

PEMBURU PENGALAMAN

Mata uang buat kaum millennials adalah pengalaman (Experience). Mereka berwisata untuk merasakan pengalaman hidup di suatu destinasi seperti layaknya orang lokal, mulai dari mencari tempat kuliner yang populer, atraksi seni & budaya, atau spot terbaik yang ikonik di jejaring sosial.




PERISET HANDAL

Kaum millennials menghabiskan waktu lebih lama dibanding generasi sebelumnya untuk mengecek harga atau mengkomparasi potensi belanja wisata sebelum booking. Rata-rata Millenials mengecek di 3.7 sumber yang berbeda. Menurut survei Expedia, Millennials di Cina bahkan mengecek lebih dari 5 situs yang berbeda.

PETUALANG INSTAGENIC

Wisata petualang atau mengembara dan menyatu dengan alam menjadi top atraksi yang mereka cari. Tren baru seperti Glamping, diving, biking dan hiking menjadi tren baru yang mereka buru untuk menjawab pertanyaan “seberapa instagramable liburan saya nanti?.”

SMART SPENDER

Limitasi terhadap budget bukan jadi penghalang bagi millennials untuk mengonsumsi perjalanan. Toh bisa patungan. Sistem sharing economy ini yang memberikan kesempatan lebih bagi Millennials untuk bisa mendapatkan value yang lebih. Salah satu contoh dari system sharing ini adalah fenomena Wisata Open Trip yang marak dijual oleh Millennials di Instagram.

Sumber: (1) Millennials & Future of Travel, oleh Expedia & The Future Foundation , 2016, (2) Asian Millennial Travel Report oleh Visa/ McKinsey 2014, (3) The Millennial Traveller Survey oleh WYSE/UNWTO, 2014

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X
X